Headline

Hikmah Bersabar

Hikmah Bersabar

Bismillahirrahmanirrahim
Kita sering mendapatkan ceramah tentang perlunya bersabar, dan segala macam keunggulannya. Namun pernahkah kita berpikir bahwa tak semudah membalikkan telapak tangan untuk melaksanakannya. Bahkan mungkin bisa jadi mereka yang sering berceramah tentang kesabaran tersebut tidak bisa menjalaninya sendiri.
Kita sering ‘grusa-grusu’ atau terburu-buru dalam bertindak, menyikapi perilaku orang lain dan dalam menghadapi segala hal. Emosi sering mudah naik, manakala dihadapkan suatu hal yang tidak mengenakkan hati kita. Juga acapkali kita merasakan ketegangan pikiran, sport jantung mendadak dan sebagainya di saat kita mendengar berita yang mengejutkan. Kesemuanya itu bermula dari karena kita tidak bersabar.
Perilaku sabar sangatlah dipuji oleh Allah, itulah sebabnya dikatakan bahwa Allah bersama dengan orang-orang yang sabar (innallaha ma-ash shobirin). Dalam istilah jawa pun sering dijumpai istilah ‘sing sopo sabar bakale subur’ (artinya : barangsiapa bersabar maka akan beruntung) atau ‘sing sopo sabar kuwi bakal kinasihan dening Gusti” (artinya : barang siapa bersabar akan dikasihi Tuhan).
Ketika anda mempelajari suatu teknik pengolahan energi misalnya Sin Ilahi, Sin Hu atau lainnya, anda dituntut untuk bersabar melatihnya. Tidak boleh buru-buru ingin memperoleh hasil yang menakjubkan, ingin segera menjadi orang ‘linuwih’ dan sebagainya.
Demikian juga halnya ketika anda menjalani laku ‘wirid’, maka anda tidak boleh tergesa-gesa ingin memperoleh hasilnya.
Kesabaran adalah penguasaan atas ego dan nafsu kita. Dengan menguasai ego dan nafsu, kita akan mampu menangkap dan memahami beberapa tanda yang ditunjukkan oleh Allah, baik dalam keadaan terjaga maupun tertidur. Dengan bersabar kita akan mengurangi karat-karat di hati sehingga hati menjadi lebih terjaga kebersihannya, dan diharapkan akan lebih mudah menerima ‘penerangan’ dari nur (cahaya) Allah.
Secara medis pun, seseorang yang bisa mengendalikan emosinya, maka dia akan terjaga dari serangan penyakit jantung, stroke, diare atau yang lainnya. Hal ini dikarenakan dengan bersabar, metabolisme tubuh menjadi normal.
Jadi, mau pilih mana ?
Menjadi orang yang sabar ataukah menjadi orang yang emosional ?
Semoga bermanfaat.
BY: M Zur'an Asyrofi
 

LDKR

Latihan Dasar kepemimpinan Rohis SMA Negeri 1 Natar periode 2012/2013. Semoga sukses, Aamiin :)

 

SINETRON: Pilih Boikot Atau Yang Ngotot?

Yang bikin fantasi, yang makin digandrungi. Yang menjual banyak sensasi, yang banyak dibeli. Kenyataannya memang seperti itu hukum alam di Indonesia. Mungkin tidak sepenuhnya salah jika negara ini dikatakan negara yang ‘demen sensasi’.

Mendengar kata sensasi, hal pertama yang paling sering orang pikirkan pertama kali tentu “artis”. Artis, industri hiburan, akhirnya terpikir juga istilah perfilman. Mungkin film Indonesia masih ada yang bisa diluluskan uji kelayakan untuk ditonton. Tapi bagaimana dengan sinetronnya? Tampaknya sinetron Indonesia layaknya primadona hiburan bagi rakyat yang jenuh di tengah ruwetnya isi pemberitaan yang tidak pernah absen diisi kasus korupsi. Okelah, banyak mahasiswa yang lebih memilih menonton siaran televisi yang mengajak penontonnya berpikir cerdas dan kritis. Tapi bandingkan, lebih banyakkah jumlah mahasiswa daripada “rakyat biasa” di negeri ini? Lantas apa tempat pelarian para “rakyat biasa” itu setelah lelah mencari upah seharian? Tak bisa dielak, sinetronlah tempat pikiran dan mata dilarikan untuk menghibur diri.

Seakan tak pernah mempermasalahkan cerita yang monoton, penggemar sinetron makin bejibun, ratingnya jadi naik gunung, aktor dan aktrisnya makin eksis, produknya laris manis. Parahnya, sinetron Indonesia tampaknya sudah terbiasa mencekoki para penontonnya dengan cerita-cerita ganjil nan menggurui. Tokoh utama berbudi baik yang kalau dalam pelajaran bahasa Indonesia disebut sebagai tokoh protagonis, selalu menjadi bulan-bulanan tokoh antagonis. Si protagonis pun tidak pernah bisa melawan, bahkan jika keadaan memaksa si antagonis untuk kalah, si baik akan menutupi kesalahan tokoh antagonis dan berpura-pura tidak pernah disakiti agar menciptakan figur sebagai orang yang benar-benar berhati mulia. Aneh, mau menjadi orang baik saja kok banyak sekali siksaannya. Dan, apakah orang yang baik itu adalah orang yang ‘melindungi’ yang jahat? Kesannya jadi seperti KKN ya? Dampak terparah dari sinetron sebenarnya ada pada anak-anak yang juga asik saja diajak menonton sinetron oleh orangtuanya. Bukan hal baru lagi kalau ada anak yang jika ditanyakan, ingin menjadi tokoh baik atau jahat, malah menjawab tidak ingin menjadi yang baik. Mengapa? Ternyata, menurut mereka, tokoh baik selalu disiksa!

Sinetron berkedok Islam malah lebih parah. Apalagi sinetron anaknya: yang punya kekuatan ini lah, itu lah, yang bisa mengubah sesuatu, bahkan ada ceritanya anak yang punya layaknya mukjizat sehingga banyak orang meminta pertolongan padanya. Bukankah yang seperti ini yang paling berbahaya bagi akidah kita? Secara tidak sadar, anak-anak menyimpan pesan bahwa ada kekuatan lain yang bisa diandalkan selain kekuatan Allah swt. Bahwa mereka bisa mengendalikan bahkan menolak ‘bala’. Tidak berlebihan jika kita memandang sinetron sebagai sesuatu yang mulai harus kita boikot. Pemboikotan dalam artian sebenarnya memang tidak bisa kita lakukan. Pemboikotan yang mungkin adalah tindakan tidak menonton sinetron dan tidak memilih channel berisi sinetron selama sinetron itu ditayangkan. 

Pemboikotan kecil ini mungkin tidak berpengaruh apa-apa pada pihak entertaiment, apalagi pemboikotan ini hanya dilakukan oleh sepersekian dari sebagian kecil masyarakat yang peduli. Tapi insya Allah besar pengaruhnya bagi terjaganya akidah dan pikiran kita dari tontonan tidak cerdas dan membodohi. Memang tidak semua sinetron Indonesia seburuk itu, tapi kebanyakan produsernya tetap saja ngotot ingin memproduksi cerita yang skenarionya didramatisir. Sekali lagi, Indonesia memang negara ‘demen sensasi’ sekaligus yang ‘latah informasi’.


-HL-
 

MENULIS, Antara Bakat dan Tekad

Menulis. Siapa yang tidak bisa memegang pena kemudian menorehkan tintanya di selembar kertas? Tapi kata ‘menulis’, yang dilihat dari sudut pandang sebagai suatu kegiatan personal –dalam artian bukan menulis pelajaran atau tugas sekolah- seringkali membuat orang yang tidak tertarik mendengarnya saja sudah pesimis duluan. Ada juga orang yang mengaku ingin ‘bisa menulis’, tapi disuruh menulis diary saja sudah merengek. Sebenarnya apa yang salah dengan sebuah kegiatan bernama ‘menulis’?
Menulis, baik itu menulis artikel, opini, cerita, puisi, apapun lah, bagi sebagian orang masih di cap sebagai kegiatan yang memerlukan bakat. Memang tidak sepenuhnya salah, tapi bakat ada pada nomor ke sekian sebagai faktor penentu dalam keberhasilan menulis. Jadi, salahnya di mana? Yup! Tentu saja kesalahan ada pada persepsi masing-masing orang yang menilai bahwa menulis hanya bisa di lakukan ketika kita diberikan cukup anugerah oleh Tuhan untuk berkarya. Selebihnya, “I have no talent, and I give up”. Begitu mendarah dagingnya tradisi ‘terima nasib’ akibat penjajahan bangsa Eropa di negeri ini selama berabad-abad lamanya. Baiklah, ayo kita kembali ke masalah menulis.

Allah swt pasti membagi rata masing-masing hambaNya sebentuk talenta. Jika A mendapat kelebihan dalam hal ini, maka ia pasti mempunyai kekurangan dalam hal lainnya. Begitupun dengan B, C, dan seterusnya. Namun kadang, kita tidak mau sedikit lebih bersabar seperti Thomas Alva Edison yang setia mencoba sampai lebih dari 1000 kali demi menghidupkan sebuah bola lampu. Akibatnya, potensi yang seharusnya bisa ditemukan manakala kita menggali lebih dalam tidak pernah bisa menjadi berarti. Menulis juga merupakan potensi yang diam-diam pasti melekat pada setiap individu. Kalau kita tidak memaksakan menjebol penutupnya untuk kita bawa ke luar, potensi itu akan selamanya terkubur bahkan makin tertutup hari demi hari oleh berbagai sampah yang menumpuk. 

Bukankah hampir setiap orang, apalagi yang masih berstatus pelajar, bisa menggunakan pena? Memiliki buku? Setidaknya selembar kertas bekas alas gorengan? Memahami abjad? Kalau begitu menulislah! Jangan pikirkan terlalu rumit, seperti apa yang selanjutnya, bagaimana gaya bahasanya, dan pikiran-pikiran pembawa kekhawatiran lainnya. Semakin banyak yang kita pikirkan sebelum menulis, semakin lama waktu diulur. Lama-lama malah tidak jadi menulis. Jangan pikirkan bagaimana kita bisa menulis layaknya Kang Abik (Habiburrahman El-Shirazy), atau Andrea Hirata, atau penulis terkenal lainnya. Tapi berpikirlah bahwa kita adalah kita. Kita tidak perlu menjadi mereka setiap kali kita ingin menulis. Tulislah apa yang sedang terlintas saat itu juga.
Tidak bisa dielakkan lagi, bahwa menulis sudah menjadi suatu kebutuhan bagi hidup kita. Mau bukti? Lihat saja berbagai jejaring sosial yang lagi naik daun saat ini. Setiap detik selalu bermunculan tulisan-tulisan baru, walau hanya sekedar tulisan ringan dan sangat singkat. Itu sudah membuktikan bahwa apa yang kita rasakan saat itu adalah apa yang ingin kita tuliskan. Memang tujuannya bermacam-macam, mulai dari iseng sampai yang tujuannya ingin pamer. Tapi titiknya adalah potensi menulis itu sendiri. Bangsa Indonesia yang istilahnya masih rawan oleh segala yang baru ini perlu sebuah budaya untuk menjaga agar jangan sampai terlalu kebablasan di tengah pengaruh yang serba bebas. Salah satunya ya menulis. Menulis untuk selalu mengingatkan siapa diri sendiri, apa yang sudah dan akan dilakukan, dan menulis untuk akhirnya menjadi sejarah. Sebuah catatan yang bisa menjadi pelajaran bagi generasi berikutnya ketika mereka membaca tulisan kita. Jadi, alasan apa lagi yang masih menahan kita untuk tidak menulis? :)


-HL-
 

Rasa Takut


Setiap manusia dicipatakan atas dasar fitrah, dan diantara fitrah manusia adalah memiliki rasa takut yang menyelimutinya setiap saat. Ada rasa takut terhadap mati, takut terhadap masa depan, takut kehilangan kesempatan, takut kehilangan jabatan, takut kehilangan harta, takut kehilangan orang yang dicintai, takut tidak mendapatkan jodoh yang baik, takut karena dosa-dosa yang pernah dilakukan dan berbagai macam rasa takut lain yang selalu menyelimuti hati manusia. Rasa takut yang selalu menghantui manusia akan menyebabkan kerisauan dalam hati jika tidak disikapi dengan benar. Maka tidak mengherankan jika banyak manusia yang berbondong-bondong ke bisokop, bar, tempat rekreasi, dan tempat-tempat hiburan lain untuk sejenak menghilangkan kerisauan tersebut.

Islam sebagai sebagai rahmatan lil 'alamin mengajarkan jalan yang indah untuk mengatasi setiap rasa takut dan risau yang menghinggapi manusia. Obat terbaik untuk mengatasi rasa takut tersebut adalah menggantungkan segala harapan hidup (Raja') dan rasa takut kepada Allah Jalla wa 'Azza. Rasa takut dan harap ibarat dua sisi mata uang yang tidak dapat dipisahkan antara satu dengan yang lainnya, sisi yang pertama tidak akan ada artiinya tanpa ada sisi yang ke dua. Kesalahan menempatkan harapan akan menyebabkan rasa takut semakin besar, karena pada dasarnya rasa takut itu tidak memiliki eksistensi sama sekali hingga kita memberikan arti kepadanya.

Rasa takut yang melanda diri seseorang seringkali menjauhkan seseorang dari apa yang ditakutinya, namun hal ini sangat berbeda bagi seorang muslim yang takut kepada Allah. Rasa takut kepada Allah akan menghantarkan seseorang pada upaya mendekati Allah dengan kedekatan yang sedekat-dekatnya. Karena bagi seorang muslim, takut kepada Allah berarti takut apabila segala tingkah lakunya tidak disukai Allah, sehingga ia akan berupaya sekuat tenaga untuk mencari cinta dan keridhaan Allah. Rasa takut kepada Allah yang diiringi dengan sebuah harap kepada-Nya akan menjadikan hidup seorang muslim penuh dengan rasa optimisme. Bagaimana ia akan merasa takut tidak mendapat rizki sedang ia memiliki Allah yang Maha Kaya, bagaimana ia akan takut kehilangan kesempatan, harta, kekasih atau jabatan sedang semua adalah milik Allah, bagaimana ia akan takut mati sedang dengan mati itu adalah pintu bertemunya ia dengan Allah, bagaimana ia akan merasa takut masa depan sedang segala sesuatunya telah ditetapkan oleh Allah. Dengan rasa takut kepada Allah, maka ia akan mampu menahan organ tubuhnya dari segala kemaksiatan dan kesia-siaan. Kemudian di saat yang sama ia senantiasa berharap atas ampunan dan ridha-Nya, maka dengan hal tersebut akan menjadikannya sebagai hamba yang akan selalu menggantungkan dan menyerahkan dirinya kepada Allah.

"Dan barang siapa yang taat kepada Allah dan rasul-Nya dan takut kepada Allah dan bertakwa kepada-Nya, maka mereka adalah orang- orang yang mendapat kemenangan"
[TQS. An-Nur:52]

Saudaraku janganlah kita takut dan merisaukan masa depan yang belum tentu kita jumpai, namun risaukanlah tiap detik dari waktu kita yang telah berlalu tanpa kemanfaatan. Semoga kita termasuk orang-orang yang mampu memperbaiki diri dan lingkungan kita setiap waktu. Dan semoga kita tetap bisa selalu saling mengingatkan dan mendoakan dalam kebaikan. Barakallahufikum..

Madiun, 13 Januari 2012 pukul 19.36 WIB 

Muhammad Syamsul Arifin
Ketua Kaderisasi ROHIS SMA 1 Natar 2006/2007
 

Planet Baru Kembaran Bumi


Astronom mendeteksi adanya planet bebatuan yang orbitnya berdekatan dengan bintang. Kemungkinan besar kehidupan ditemukan di tempat itu.

Penemuan yang dipimpin oleh tim UC Santa Cruz ini memprediksi adanya kemungkinan planet serupa di Galaksi Bima Sakti. Walaupun dianggap menyerupai bumi, planet ini ukurannya 4,5 kali lebih besar sehingga disebut ''Super-earth''.

Berjarak 22 tahun cahaya dari bumi, waktu orbitnya adalah 28 hari dan terletak pada zona yang dianggap tepat untuk dihuni mahluk hidup. Suhu di sekitarnya tak terlalu dingin atau panas, juga terdapat pasokan air. Astronom menjulukinya sebagai ''Zona Goldilock''.

Planet yang baru ditemukan ini dikategorikan sebagai planet tiga bintang, termasuk dua bintang yang mengorbit satu sama lain. Salah satunya memiliki permukaan seperti Jupiter yang kaya akan gas dan satu planet lain, orbitnya berkeliling selama 75 hari.

Anggota senior tim UC Santa Cruz, Steven Vogt mengatakan kemungkinan masih banyaknya planet lain. “Penemuan planet ini adalah penanda akan adanya banyak penemuan planet baru,” katanya.

Vogt kini sedang mengerjakan proyek pengerjaan teleskop baru bernama ''Automated Planet Finder''. Alat ini mampu mendeteksi teleskop secara otomatis di Observatorium Mount Hamilton di dekat San Jose.

Penemuan ini dipimpin oleh Paul Butler dan Guillem Anglada-Escude dari The Carnegie Institution for Science di Washington DC dan para anggotanya terdiri dari astronom asal Jerman, Inggris, Australia dan Chili.

Mengenai penemuannya, Anglada-Escude menyatakan bahwa planet itu memiliki pasokan air yang sangat baik. “Planet ini aalah kandidat planet terbaik dengan jumlah air yang mencukupi,” katanya.

Temuan tim tersebut akan dipublikasikan di Astrophysical Journal, sebuah jurnal khusus berisi temuan ''exoplanet''. Menurut Extrasolar Planet Encyclopaedia, keberadaan exoplanet telah terdeketeksi sejak 1995 dan jumlahnya mencapai 755 planet.

SAN FRANSISCO CHRONICLE | SATWIKA MOVEMENTI

Sumber : http://www.tempo.co

 

KAU INI BAGAIMANA ATAU AKU HARUS BAGAIMANA


…………………..KAU INI BAGAIMANA ATAU AKU HARUS BAGAIMANA………………….


Kau ini bagaimana?

Kau bilang aku merdeka, kau memilihkan untukku segalanya

Kau suruh aku berfikir, aku berfikir kau tuduh aku kafir

Aku harus bagaimana?

Kau bilang bergeraklah, aku bergerak kau curigai

Kau bilang jangan banyak tingkah, aku diam kau waspadai

Kau ini bagaimana?

Kau suruh aku memegang prinsip, Aku memegang prinsip kau tuduh aku kaku

Kau suruh aku toleran, aku toleran kau bilang aku plin plan

Aku harus bagaimana?

Aku kau suruh maju, aku mau maju kau selimpung kakiku

Kau suruh aku bekerja, aku bekerja kau ganggu aku

Kau ini bagaimana?

Kau suruh aku Taqwa, Khotbah keagamaanmu membuat aku sakit jiwa

Kau suruh aku mengikutimu, langkahmu tak jelas arahnya

Aku harus bagaimana?

Aku kau suruh menghormati hukum, kebijaksanaanmu menyepelekannya

Aku kau suruh berdisiplin, kau mencontohkan yang lain

Kau ini bagaimana?

Kau bilang Tuhan sangat dekat, kau sendiri memanggil-manggilnya dengan pengeras suara setiap saat

Kau bilang kau suka damai, kau ajak aku setiap hari bertikai

Aku harus bagaimana?

Kau suruh aku membangun, aku membangun kau merusakkannya

Aku kau suruh menabung, aku menabung kau menghabiskanya

Kau ini bagaimana?

Kau suruh aku menggarap sawah, sawahku kau tanami rumah-rumah

Kau bilang aku harus punya rumah, aku punya rumah kau meratakanya dengan tanah

Aku harus bagaimana?

Aku kau larang berjudi, permainan spekulasimu menjadi-jadi

Aku kau suruh bertanggung jawab, kau sendiri terus berucap wallahu ‘alam bissawab

Kau ini bagaimana?

Kau suruh aku jujur, aku jujur kau tipu aku

Kau suruh aku sabar, aku sabar kau injak tengkukku

Aku harus bagaimana?

Aku kau suruh memilihmu sebagai wakilku, sudah kupilih kau bertindak sendiri semaumu

Kau bilang kau selalu memikirkanku, aku sapa saja kau merasa terganggu

Kau ini bagaimana?

Kau bilang bicaralah, aku bicara kau bilang aku ceriwis

Kau bilang jangan banyak bicara, aku bungkam kau tuduh aku apatis

Aku harus bagaimana?

Kau bilang kritiklah, aku kritik kau marah

Kau bilang carikan alternatifnya, aku kasih alternanif kau bilang jangan mendikte saja

Kau ini bagaimana?

Aku bilang terserah kau, kau tidak mau

Aku bilang terserah kita, kau tak suka

Aku bilang terserah aku, kau memakiku

Kau ini bagaimana?

Atau aku harus bagaimana?

1987

KH. A. Mustofa Bisri (Gus Mus)
 

Dari Sekbid Dakwah dan Minat Bakat

.::Kholilah Dzati Izzah

Assalamualaikum,
Tulisan ini saya dedikasikan untuk seluruh anggota Rosstar, khususnya teman-teman sesama pimpinan dan para kakak/mbak TKS.

Alhamdulillah, Allah ternyata masih sayang terhadap hambaNya yang banyak salah ini, sampe-sampe masih diberi kekuatan untuk menulis di blog ini, menulis apa yang ada di pikiran saya malam ini. Malam ini, malam dimana terakhir kali saya bisa disebut sebagai pimpinan Rosstar. Bukan masalah lengsernya “jabatan” saya dari kepengurusan rohis, tapi yang sangat-sangat membuat saya galau adalah karena pertanggungjawaban yang seperti apa yang bisa saya tunjukkan ketika saya dilengserkan.

Yang pertama kali ingin saya tulis adalah sebuah permohonan maaf yang sangat besar kepada teman-teman pimpinan, anggota rohis, dan...kakak-kakak, mbak-mbak TKS. Tidak perlu saya sebutkan berapa progja saya yang tidak berhasil saya laksanakan, saya yakin semua sudah bisa melihat sendiri bagaimana kurang baiknya kinerja saya sebagai sekretaris bidang DAMBA. Dimulai dari hal sederhana tapi rumit: akhlaq.

Maaf untuk kakak dan mbak TKS yang sudah berusaha membina saya sekuat tenaga untuk menjadi seorang akhwat yang lebih baik, tapi nyatanya saya masih saja bandel. Kurang tertib muttaba’ah, sering lupa menjaga sikap dan perkataan, ah, banyak lainnya. Maaf karena saya tidak bisa berkoordinasi secara baik dengan anggota DAMBA lainnya, sehingga mbak dan kakak harus menentukan pilihan sulit dari segelintir orang-orang yang tersisa di rohis ini untuk menjadi penerus saya. Sebenarnya pun, tidak layak bagi saya, menyebut adek-adek kelas itu sebagai penerus saya. Karena saya tidak ingin mereka seperti saya. Saya ingin mereka berbeda dari saya, menjadi lebih baik dan menjadikan yang kurang baik menjadi baik. Karena itu, mereka lebih berhak disebut sebagai pengganti saya, bukan penerus saya.

Saya pernah mendengar perkataan seorang kakak TKS yang mengatakan bahwa kepengurusan rohis tahun ini dimasuki orang-orang baru yang tidak tahu menahu tentang rohis, sehingga TKS lah yang lebih banyak bekerja ketimbang rohisnya. Jujur ketika itu saya merasa sakit hati, karena saya adalah salah satu orang baru dalam organisasi ini. Saya tidak pernah terlibat dalam semua kegiatan rohis, bahkan menjadi anggota rohis pun baru kelas XI itu. Tiba-tiba saya disuguhi amanah menjadi seorang sekbid, dan semua orang mencoba mendukung saya. Saya marah dengan perkataan kakak TKS itu, karena dari awal saya sudah bilang bahwa saya tidak pantas menjadi bagian dari pimpinan rohis, saya yang tidak tahu apa-apa ini pasti hanya akan merepotkan. Tapi akhirnya saya sadar, apa salahnya orang baru menempati jabatan? Yang salah adalah betapa lambannya saya mengadaptasikan diri saya dalam barisan kepemimpinan rohis. Saya sadar, kesalahan ada pada diri saya. Bahwa berlarut-larut dalam memaklumi diri sendiri sebagai orang yang tidak tahu apa-apa adalah sebuah hal yang hanya membuang waktu dan pekerjaan sia-sia.

Tapi di sisi lain, saya sangat bersyukur diberi kesempatan mencicipi manisnya pangkat, pahitnya cemoohan, kerasnya tanggungjawab, lembutnya persaudaraan. Rohis adalah organisasi pertama bagi saya. Meskipun di kelas X saya sudah menjadi anggota OSIS, tapi baru di rohis lah saya merasakan dunia organisasi yang hiruk pikuk dengan masalah, tantangan, sensasi, usaha.. dan banyak hal menarik lainnya.

Terimakasih banyak atas dukungan teman-teman sesama pimpinan, anggota rohis, dan kakak serta mbak TKS. Ketua umum yang sabar dan tidak lelah mengingatkan saya untuk segera melaksanakan progja. Wakil ketua yang selalu mendukung langkah yang baik bagi bidang DAMBA, Sekretaris yang bagaikan malaikat tanpa sayap *ehm!, dengan ikhlas dan relanya membantu saya khususnya dalam hal penerbitan ARMY dan urusan cetak mencetak, dan bendahara sebagai sosok kuat yang membantu bidang ini dalam urusan finansial.

Untuk kabid DAMBA sebagai teman pendamping, terimakasih atas kesabarannya mengiringi dan membimbing saya untuk bersama-sama membangun bidang ini. Terimakasih telah bersabar menghadapi sikap saya yang sering berubah-ubah. Walaupun dalam banyak hal kita gagal, tapi ada juga yang bisa kita jadikan kenang-kenangan dari organisasi ini, Ren! :)
Untuk teman-teman sekbid lain, Aci, Ita, Evita, terimakasih atas dukungan dan kehangatan yang kalian berikan #ayo kita janjian warna baju! :D
Dan untuk sahabat-sahabat ARMY, sahabat-sahabat rohis, terimakasih banyak atas partisipasinya dalam banyak kegiatan rohis. Terimakasih karena telah membaca ARMY, menimpannya dan tidak membuangnya.

O iya, hal paling berkesan selama melaksanakan progja bidang ini adalah ketika saya mengerjakan buletin ARMY. Sebuah kesenangan tersendiri untuk bisa menulis, tentu saja dibantu oleh banyak sekali pihak. Terimakasih! Agak berat untuk melepaskan sebutan ARMY Crew , tapi –lagi lagi- saya berharap Crew selanjutnya adalah orang-orang pilihan yang menjadikan bidang DAMBA ini jauh lebih baik.

Perjuangan saya berlum berakhir, perjuangan saya untuk lepas dari rasa dihantui sebagai orang baru di rohis. Meski saya tidak lagi menjadi bagian dari kepemimpinan rohis ini, saya tahu masih banyak tugas saya sebagai anggota rohis. Masih banyak hutang kontribusi terhadap rohis ini yang harus saya cicil sedikit demi sedikit.

Terimakasih dan maaf, dua kata yang sangat berarti bagi hidup saya itu saat ini saya dedikasikan kepada semua yang membaca, semua yang mendengar, dan semua yang melihat saya sebagai orang yang penuh alfa di rohis ini.
Keep spirit of rohis ^^

-HL-
 

Dari Sekbid Musola-Perpus

.::Evita Sari

assalamualaikum..
dari sekbid 'abal-abal' mushola perpus, Evita.

“Tak menjalankan amanah dan mengecewakan banyak orang” mungkin itu yang sudah ana lakukan selama beberapa bulan ini. Penyesalan tak dapat memperbaiki semuanya. Permintaan maaf memang seharusnya terucap,bahkan mungkin harus ratusan kali. Permohonan ampun pada ALLAH SWT. Harus beribu-ribu kali.
Ana hanyanyah makhluk ALLAH yang penuh kekhilafan, mengintrospeksi serta memperbaiki diri mungkin menjadi sedikit penawar rasa penyesalan.
-MAAF-
 

Dari Sekbid Kaderisasi

.:: Asri Hajar Dewanti

Pertama, Aci mau berterimakasih atas segala bantuan dan dukungan teman--teman seperjuangan dan kakak-kakak TKS hingga program-program kader bisa terlaksana. Kedua, Aci mau minta maaf buat semua pihak, terkhusus buat kabid kader, terus buat para pemimpin, buat presidium, dan buat kakak-kakak TKS Aci minta maaf banget, soalnya.. nggak bisa dipungkiri, bahwa selama setahun ke belakang, Aci nggak bener-bener memberikan kontribusi buat rohis. Maaf juga karena Aci sempet nggak mentingin rohis.

Tapi walaupun begitu, Aci selalu berusaha buat terus aktif di rohis sampai kapanpun. Maaf juga atas sikap Aci yang petakilan, nggak bisa diem, ceplas ceplos, moody, dan suka bercanda kalau lagi rapat. Inilah Aci dengan segala kekurangannya...
 
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. ADS ROSSTAR - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger